Kajian ini dilakukan untuk menilai implementasi Proyek Body Talk yang bertujuan memperkuat kapasitas pendidik, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi yang inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas (YPWD). Studi menilai tata kelola program, kualitas pelatihan, serta hasil jangka pendek terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta, terutama YPWD.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pelatihan Body Talk relevan dan berdampak positif—meningkatkan pengetahuan YPWD tentang tubuh, batasan pribadi, serta cara melindungi diri. Namun, beberapa materi seperti kontrasepsi dan keberagaman seksual masih dianggap tabu dan sulit disampaikan.
Rekomendasi mencakup: penguatan partisipasi orang tua dan YPWD dalam desain program, peningkatan kapasitas fasilitator lokal, serta penyesuaian materi dan metode agar lebih kontekstual, terutama bagi penyandang disabilitas intelektual.






